Bojonegoro, arusbawah.com – Kabupaten Bojonegoro memiliki pasar wisata yang berdiri megah. Pembangunan pasar ini tentunya melihat adanya pasar yang lama berjubel pedagang. Sehingga banyak pedagang yang tidak mendapat tempat berdagang di dalam pasar lama.
Pemerintah kabupaten Bojonegoro berfikir bagaimana caranya agar para pedagang yang berjubel melakukan kegiatannya tidak berjualan di bahu jalan yang pada dasarnya berfungsi untuk parkir orang uang mau belanja ke pasar. Sehingga dilakukanlah pembangunan pasar yang berdiri kokoh denhan bangunan bertingkat dan luas.

Memang perpindahan para pedagang dari pasar lama ke pasar baru hingga sekarang masih belum tuntas. Ada pedagang yang pro dengan sadar mau pindah berdagang di pasar baru. Ada juga pedagang yang sampai saat ini tidak mau pindah. Untuk menyikapi hal tersebut pemerintah melakukan pengadaan pembangunan pasar. Namun apakah para pedagang pernah berembuk atau menyetujui dengan adanya pembangunan pasar baru tersebut?
Apakah sudah benar dan cocokkah nama pasar wisata tersebut?
Berdasarkan hasil investigasi perwakilan awak media ini di lapangan menemukan beberapa kesaksian yang di lontarkan para pedagang dan pembeli di pasar wisata Bojonegoro. Yeyen seorang pedagang di pasar wisata menjelaskan” Di pasar ini waktu terjadi padam listrik harus ada elektrik diesel. Kenapa mesin yersebut harus ada? Elektrik diesel tujuannya di saat padam listrik, Mesin tersebut secara otomatis dapat mengcouver kepadaman listrik. Jadi para pedagang tidak perlu kebingungan mencari lilin karena padamnya listrik”. Ungkapnya
Begitu juga kesaksian pengunjung bernama wahyu yang tidak mau menyebut nama desa asalnya mengatakan” sebenarnya ini bukan pasar wisata. Lebih cocok dengan sebutan pasar tradisional semi modern. Karena yang di suguhkan di sini adalah orang jualan sayur dan orang jual kopi serta jajan cemilan. Mungkin pasar ini menampung pedagang lesehan yang tidak dapat tempat. Daripada liar akhirnya diberikan tempat seperti ini. Kalau memang pasar ini di sebut pasar wisata, kok belum pas. Karena tidak ada icon yang di suguhkan. Umpama seperti kesenian asli atau hasil kerajinan asli Bojonegoro tidak tampak. Tutupnya meninggalkan awak media ini untuk meneruskan belanjanya.
Sebelum awak media ini meninggalkan pasar, seorang pedagang bernama sugeng menambah penjelasan ” sebenarnya kalau namanya pasar wisata harus ada hiburan yang disuguhkan. Pihak dinas pariwisata harus hadir dalam menyuguhkan sesuatu agar pasar ini sesuai dengan namanya. Pasar ini butuh kehadiran pihak dinas pariwisata untuk menyuguhkan produk dan kesenian asli Bojonegoro. Ungkapnya menutup pembicaraan ini. (Edy)

