ARUSBAWAH//SURABAYA//selama Sepanjang tahun 2026 ini, memang serentak untuk menghias sebagai aksesoris di kota Surabaya, sebagai alat pencegahan banjir (genangan air) sehabis diguyur hujan seharian, maka diperintahkan oleh pihak Eri Cahyadi selaku Walikota Surabaya,dari 31 Kecamatan dan 153 Kelurahan se-kota Surabaya, melakukan pembangunan (pemasangan,red) saluran air atau gorong-gorong diwilayah teritorial Kecamatan masing-masing dan memerintahkan membentuk kelompok masyarakat Pokmas/Penyedia) di setiap 153 Keluarahan saat itu,untuk merengkrut warga-warganya yang beridentitas (berKTP) kota Surabaya, untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan selama ini, sebagai tenaga pekerja sipil,yang dibiayai dari aliran dana kelurahan (DAKEL) sebesar Triliyunan tersebut.

Namun, sangat disayangkan kalau program pokmas tidak berjalan dengan program dari Erik Cahyadi selama ini. Kebanyakan sebagian besar dari jumlah 153 Kelurahan sekota Surabaya, dari terbentuknya kelompok masyarakat (POKMAS) diduga masih + kepemilikan Skil Sipil (asal comot, red).misalkan contoh : selaku Ketua Pokmas tanpa bekal ilmu Sipil dan selaku Pelaksana pembangun tidak bisa memahami arti dari kata-kata Swakelola IV, bagaimana untuk mengetahui metode kerja sebagai Pelaksana Pembangunan tersebut.Hal ini diduga sempat terjadi di Kelompok Masyarakat (POKMAS) Kelurahan .Ploso. Kecamatan.Tambaksari.Surabaya.
Sempat kasus ini diturunkan kepermukaan publik, sebab terbukti ada temuan dari hasil investigasi, dari awak media online arusbawah@gmail.com.selama, adanya pengiriman stok paving produk dari PT. VARIA USAHA BETON Plant Gresik, dari beberapa paving yang keberadaannya gampang protol (runtuh, red), berisi seperti pelepah pisang kering.castin dipasang tanpa rambatan semen (luluh) dan papan proyek.Ketua Pokmas tanpa skil sipil dan Pelaksana pun ketika ditanya awak media online arusbawah@gmail.com seputar Swakelola Type pun tidak bisa menjawab saat itu.terkesan amburadulnya Struktur pokmas Kelurahan Ploso, dengan terjadi kasus paving tersebut sudah gagal produk yang dihasilkan oleh pihak PT.VARIA USAHA BETON.Sedangka,
Sempat dari awak media online arusbawah@gmail.com.selama mendatangi kantor Kelurahan Ploso, terkait dengan pekerjaan Kelompok Masyarakat (Pokmas), dari pihak Lailatus Saadah L., S.H.selaku Lurah mengatakan ” Sekarang ini Khan kami (kelurahan, red) sudah pakai pokmas, sudah berjalan maksimal dengan baik.sesuai dengan perencanaan. Ujar Lailatul selaku lurah lagi.kenapa jenengan tanya pokmas seperti itu (ketika ditanya struktural pokmas), kalau paving sudah KW.1.,kalau paving semuanya harus ada, sesuai dengan bageting.Ungkap Lurah Ploso lagi, ya.sudah (ketika ditanya sudahkah mendatangi lokasi projek saat itu).hanya masih saluran saja.” Kata Lailatul, serasa menjawab mengelak pertanyaan awak media online arusbawah@gmail.com saat itu.
Kebersamaan tempat dan beda waktu, sempat ditemui Andi selaku Pelaksana, dikonfirmasi terkait sebagai pelaksana dipokmas itu, sudah termasuk dalam Swakelola Type berapa dan temuan paving yang patah (cuil, red) berisi sejenis pelepa pisang kering.mengakui ” kita Khan belum ada draf perwali.pak.jadi belum bisa tau.Ungkapnya Andi lagi, anggarannya 504 juta.Ujar dia (pokmas dibidang pelaksana) tadi.kita belanja di PT.VARIA USAHA.kita mengikuti kw 350.dari Pemkot Khan menganjurkan ke PT.VARIA.kita belanjakan sesuai dengan belanja di home industri.”Tegasnya saat ditemui tempat dipelayanan publik.
Pihaknya (Andi) selaku pelaksana dilapangan mengatakan pembelanjaan paving itu, semuanya di PT.VARIA USAHA BETON, demikian juga produk dari PT.VSRIA BETON yang diduga gagal produk, tidak diteliti asal ditumpuk begitu saja, sehingga dicurigai pembelanjaan paving tersebut dumah padat karya.Sedangkan, dari pihak Pemkot Surabaya masih belum mengetahui bahwa produk paving yang di produksi oleh pihak PT.VARIA USAHA BETON diduga gagal produk, itu pun lolos dari hasil lelang konsolidasi di Pemerintahan Kota (PEMKOT) Surabaya selama ini.
(bjp)

