. Arus Bawah: Paradoks Perdagangan Bebas

Jumat, 15 April 2011

Paradoks Perdagangan Bebas

sabtu, 16 April 2011
Globalisasi ekonomi, yang inti dasarnya perdagangan bebas, akan mudah ditelaah dari kapitalisme atau logika kapital (modal). Kapitalisme yang ditunjang ideologi pasar bebas secara intrinsik memerlukan kontinuitas ekspansi modal ke segala tempat (tanpa mengenal batas negara) untuk mencari pasar baru.


Dalam sistem ini,semua orang, yang lemah dan kuat,harus berkompetisi bebas.Semua diperlakukan sama. Ini dianggap sebagai prinsip keadilan. Tak boleh ada perlindungan bagi yang lemah. Kalau si lemah dilindungi akan mendistorsi pasar dan selamanya akan tetap lemah.Pasar bebas mensyaratkan nirintervensi (negara). Pasar bebas semacam ini diyakini akan memberikan distribusi keuntungan kepada semua pihak.Tapi orang segera mengajukan argumentasi the level playing fields.

Prinsip persaingan bebas tanpa proteksi atau diskriminasi, sudah tentu, mensyaratkan aktor setara. Bagaimana mungkin keuntungan terdistribusi merata apabila medan permainan miring ke kita? Pertanyaan ini menjadi relevan untuk menjawab apakah Indonesia diuntungkan oleh perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/ FTA) ASEAN-China, 1 Januari 2010? Sejumlah pihak, terutama industri, yakin implementasi FTA yang membebaskan bea masuk 6.682 pos tarif dari 17 sektor industri itu akan memperlemah posisi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Padahal,jenis usaha ini terbukti jadi tulang punggung industri, katup ledakan tenaga kerja dan gantungan hidup puluhan jutaan warga.Angka-angka statistik lebih berbicara. Tahun 2008 impor produk China mengambil alih 70% pangsa pasar domestik yang semula dikuasai sektor UMKM. Dalam ekspor, produk nonmigas Indonesia seperti tekstil dan mainan anak-anak kian disaingi produk sejenis dari China yang supermurah.

Meningkatnya proteksionisme di AS, Eropa, dan banyak negara di belahan bumi lain sejak krisis global bisa dipastikan akan membuat produk-produk China justru mengalir ke pasar Indonesia. Indikasinya jelas. Pada 2009, surplus perdagangan migas Indonesia-China masih USD2,1 miliar, tapi pada 2010 tinggal USD0,9 miliar.Hal serupa terjadi pada ekspor nonmigas. Pada 2009,defisit neraca ekspor nonmigas Indonesia- China baru USD4,6 miliar,pada 2010 naik menjadi USD5,6 miliar.

FTAASEAN-China berpotensi menggerus pasar sektor manufaktur nasional dari pasar domestik. Diperkirakan kesepakatan itu akan menghilangkan peluang pasar hingga Rp35 triliun per tahun.Per September 2009, China mencatat surplus perdagangan hingga USD78 miliar atas ASEAN (The International Herald Tribune,3/12/9). Dari sisi aktor (pelaku usaha, pemerintah, dan kelembagaan pendukung) Indonesia dan China sebenarnya tidak setara.

Sektor riil Indonesia bergerak lambat didera keterbatasan energi dan infrastruktur, kepastian hukum rendah dan tata ruang tumpang tindih.Kondisi sebaliknya terjadi di China. Bahkan,dalam produk perikanan darat dan budi daya, China mendominasi pasar dunia karena subsidi pemerintah.Temuan Departemen Perindustrian menunjukkan, FTA ASEAN-China menjurus kepada perdagangan tidak adil (unfair). China diduga memberikan potongan diskon pajak 14% pada eksportir besar. Ini merupakan subsidi pemerintah secara terselubung kepada eksportir besar. Indonesia tidak melakukan ini.

Proteksi

Semua ini menunjukkan, perdagangan bebas dan pasar bebas sebenarnya tidak netral. Ideologi perdagangan bebas yang melucuti peran negara karena dinilai sebagai biang distorsi tidak diamalkan China. China tidak percaya pada keajaiban invisible hand-nya Adam Smith, makanya Pemerintah China mengintervensi dalam bentuk diskon pajak. Inilah salah satu paradoks perdagangan bebas. Paradoks-paradoks inilah yang membuat mengapa sampai saat ini perdagangan bebas yang diarsiteki Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak kunjung usai.

Selama ini, kepada negara berkembang hanya diberikan waktu penurunan tarif yang lebih lama dan tingkat penurunannya lebih kecil. Namun, bisa dipastikan negara berkembang tidak akan mampu menciptakan suatu equal playing fieldkarena besarnya perbedaan tingkat pembangunan ekonomi, teknologi, dan infrastruktur dengan para negara maju. Makanya, berulang kali serangkaian perundingan untuk melanjutkan Putaran Doha dilakukan menemui jalan buntu.

Untuk mengurangi dampak buruk FTA ASEAN-China, pemerintah membentuk tim untuk menyiapkan langkah-langkah konkret.Salah satunya menerapkan nontariff barrier.Strategi ini,antara lain,bisa dilakukan dengan alasan kesehatan (seperti sanitary and phytosanitary/ SPS) atau identifikasi asalusul barang dengan mekanisme inspeksi.Namun,instrumen non-tariff barrier tidak hanya of out date karena tidak lagi dipakai WTO, tetapi pasti akan memicu tindakkan balasan.

Contohnya, tahun 2007 terjadi “perang dagang” Indonesia- China dalam skala terbatas. Perselisihan dagang bisa diakhiri awal September 2007 setelah tim dagang Indonesia berkunjung ke China untuk membicarakan standardisasi produk foods dan non-foods. Ini mencerminkan China bukanlah partner dagang yang mudah ”diakali”, sebaliknya justru lebih ”banyak akal” daripada kita.

Sesungguhnya,FTAASEANChina hanya memberi harapan semu. China sebenarnya mengincar pasar ASEAN untuk produk mereka.Indonesia semestinya tidak membabi buta mengikatkan diri dalam tiap perdagangan bebas tanpa menimbang sisi baik dan buruknya. Indonesia seharusnya bisa becermin kepada AS, sponsor utama perdagangan bebas.

Ketika ekonominya memburuk akibat krisis keuangan,Kongres AS membuat kebijakan proteksionisme dalam bentuk Buy American, Januari 2009, yang melarang pembelian barangbarang impor dalam proyek yang dibiayai pemerintah.FTA ASEAN-China mensyaratkan keseimbangan dagang (balance of trade).Kalau ada negara yang dirugikan bisa mengajukan keberatan atau melakukan pengamanan dan antidumping. Beranikah Indonesia melakukan hal sejenis ini? ●

KHUDORI
Pegiat Asosiasi Ekonomi
Politik Indonesia (AEPI),
Anggota Pokja Ahli Dewan
Ketahanan Pangan Pusat (2010-2014)
arusbawah.com adalah sarana komunikasi Rakyat untuk menyampaikan gagasan, fikiran, kritik, saran dan usul yang disampaikan secara terbuka sehingga langsung dapat mempengaruhi opini publik sekaligus dapat mempengaruhi para pengambil kebijakan. Kedaulatan ekonomi, politik dan kebudayaan adalah pilar yg utama guna membangun kemandirian bangsa Perubahan yang diharapkan adalah perubahan kearah yang lebih baik dan suatu perubahan bukan kita tunggu jatuh dari langit...Tapi harus digerakkan oleh tangan kita semua, karena nasib satu bangsa tidak akan pernah berobah, sebelum bangsa itu sendiri yg merobahnya...!!...Amin.. ARUS BAWAH.COM *LIHAT FAKTA BUKA WACANA*. DITERBITKAN OLEH :YAYASAN BAITUL MUAMALAH INDONESIA YBMI- Notaris H.SOEKRAWINATA.SH no 01 Tgl 03-02-1999 STTO SOSPOL. No 220/-16/BINUM/IV/1999 SKD-No 503/32-KEC/IV/1999-13 April 1999 STPS No 467/922/SPM-MJL SK PROP JABAR No.062/800/PRKS/2004 Anggota BKSLP5K No.087-11 Desmber 1999 TDP No. 10235606511 TDUP No. 00122/10-24/TDUP/V/1999 NPWP No. 1. 798. 717. 3. 426 BANK. BRI Abdul Patah Cikijing No.Rekening :1108-01-001830-50-8 a/n Tatang Sofyan Iskandar BANK BNI Cabang Pembantu Cikijing No.Rekening : 0201108064 a/n Tatang Sofyan Iskandar PENDIRI : TATANG SOFYAN ISKANDAR. PEMIMPIN PERUSAHAAN : AHMAD MUKHLIS. WAKIL PEMIMPIN PERUSAHAAN : ADITYA WARDHANI SOFIE PEMIMPIN UMUM/REDAKSI/PENJAB ; TATANG SOFYAN ISKANDAR WAKIL PEMIMPIN REDAKSI : TOTONG SUGIHARTO DEWAN REDAKSI : ANDRIE M AMk. DADAN. T. SUGIHARTO, A. BAHTIAR ADIWIJAYA TUBAGUS RIYADI HARYONO. KUSMAYADI BURHANUDIN.SH.KORDINATOR LIPUTAN NASIONAL : NANA HELIANA.TASIMPERMANA.YUDI NURYAMAN,ABDUL ROHMAN,SAFRUDIN, ERNA RATNA NINGSIH, EDI SUPRIYADI, IDUN HAMID,DANI HERMAWAN. KORDINATOR WILAYAH JAWA BARAT : DADAN,KORDINATOR LIPUTAN JAWA BARAT :WAWAN ASSESOSIAWAN ,KORDINATOR WILAYAH PRIANGAN TIMUR; AGUS HERMAWAN PUTRA BIRO CIREBON INDRAMAYU:NANASURYANA.BIROKUNINGAN :WAWAN GUNAWAN BIRO MAJALENGKA : DEDY HERNAWAN, ATOY , YAYAN MULYANA, KUSTOLANI BIRO CIAMIS:DEDI RUKHMAYADI ,HERYANTO, LEPI RAHMAT FAUZI, M.HASIM BIRO : TASIK,GARUT, SUMEDANG : TOTONG KORDINATOR WILAYAH JAWA TENGAH : NUR ASRIPUDIN KORDINATOR WILAYAH JAWA TIMUR : TUBAGUS RIYADI HARYONO. KORDINATOR WILAYAH BALI, NTB,NTT : I GUSTI PANJI MALELA KORDINATOR WILAYAH KALIMANTAN : NUR ISMAIL KORDINATOR WILAYAH SUMATERA : UJANG, KORNEL SIJABAT,JASPIS PANJAITAN. Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.untuk Reporter /wartawan media on line arusbawah.com dibekali dengan Tanda Pengenal dan surat tugas.
Bookmark and Share
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE ARUSBAWAH " LIHAT PAKTA BUKA WACANA TERIMA KASIH ANDA TELAH KUNJUNGI " KAMI KAMI SIAP MELAYANI ANDA " SEMOGA BERMANFAAT "
 

mol

Ekonomi

Serba-serbi

INTERNATIONAL

Politik

Berita Budaya

Hukum

METROPOLITAN

kosong

...

Budaya

HAM

hukum 2

PENDIDIKAN

kosong

.

Musik dan Olahraga

Sosial

POTO/VIDEO

SPORT

.

POLITIK

kosong

.

Serba-Serbi

Arus Bawah Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Modifikasi: tatang sofyan iskandar: cfdarusbawah